5 Tempat Wisata di Nusa Tenggara Timur yang Sedang Hits & Instagramable (Update 2026): Dari Padar Sampai Weekuri – Itu bukan sekadar daftar “spot foto bagus”. NTT punya paket lengkap: pulau-pulau dramatis, danau kawah tiga warna, kampung adat di atas awan, sampai laguna sebening kaca di Sumba—semuanya terasa “mahal” di kamera, tapi masih bisa direncanakan dengan budget yang masuk akal.
Yang bikin NTT makin layak diperjuangkan adalah sensasinya: perjalanan yang sedikit menantang, lalu dibayar lunas oleh pemandangan yang sulit dilupakan. Di artikel ini, saya susun 5 destinasi yang sedang naik daun, lengkap dengan rute, estimasi biaya, rekomendasi penginapan, plus beberapa catatan kecil ala traveler yang sering “uji lapangan”.
Sebelum Berangkat: Gambaran Rute Besar ke NTT
Kalau ini pertama kalinya ke NTT, anggap saja NTT itu “gugusan petualangan” yang titik masuknya berbeda-beda. Untuk Labuan Bajo (Komodo/Padar/Pink Beach), biasanya terbang ke Bandara Komodo (LBJ). Untuk Kelimutu, umumnya lewat Ende (ENE) atau Maumere (MOF). Untuk Sumba (Weekuri), banyak orang masuk via Tambolaka (TMC).
Musim paling nyaman biasanya saat kemarau (sekitar April–Oktober) karena langit cenderung cerah dan laut lebih bersahabat. Namun, tetap siapkan rencana cadangan karena cuaca laut bisa mengubah jadwal kapal.
1) Pulau Padar, Labuan Bajo: View Ikonik Tiga Teluk Sekaligus
Kenapa hits & instagramable
Kalau kamu pernah lihat foto bukit dengan tiga teluk berwarna berbeda, kemungkinan besar itu Pulau Padar. Dari puncaknya, garis pantai dan lekuk pulau terlihat seperti “lukisan 3D”, apalagi saat golden hour. Pulau ini juga punya kuota kunjungan dan jam kunjung tertentu di beberapa resort, jadi terasa lebih tertata.
Cara ke lokasi
Basecamp-nya Labuan Bajo. Kamu bisa ikut open trip (gabung rombongan) atau sewa kapal (private). Rute paling umum: Labuan Bajo → Padar (trekking) → spot lain di kawasan Komodo.
Biaya & tiket (patokan aman)
Pulau Padar masuk kawasan Taman Nasional Komodo, jadi biaya yang sering muncul adalah tiket masuk kawasan TN Komodo (wisnus dan wisman berbeda, serta beda hari biasa/libur). Untuk wisnus banyak pemberitaan menyebut Rp50.000 (hari biasa) dan Rp75.000 (hari libur), sementara wisman Rp250.000/hari.
Kalau ikut trip, biasanya biaya kapal, guide, dan perlengkapan snorkeling bisa dibundling; open trip 2D1N–3D2N sering berada di kisaran jutaan per orang tergantung kapal dan fasilitas.
Penginapan terdekat
Menginapnya di Labuan Bajo (pilih sesuai gaya: hostel sampai hotel view bukit). Saran saya, pilih penginapan yang dekat pusat kota/pelabuhan biar gampang berangkat subuh.
Cerita kecil ala perjalanan
Waktu saya naik Padar, bagian paling “menguras napas” itu bukan tanjakannya—tapi godaan berhenti tiap 20 langkah karena pemandangannya makin lama makin gila. Ada momen ketika angin kencang lewat, semua orang otomatis diam sebentar, lalu sibuk cek hasil foto karena warna lautnya seperti dinaikkan saturasi.
2) Pink Beach Komodo: Pasir Merah Muda yang Bikin Feed Naik Level
Kenapa hits & instagramable
Pink Beach (Pantai Merah) itu unik karena warna pasirnya terlihat kemerahan-pink saat cahaya pas. Airnya jernih, dan snorkeling di sekitar pantai sering jadi highlight karena terumbu dan ikan-ikannya ramai.
Cara ke lokasi
Start dari Labuan Bajo, lalu naik speedboat atau kapal trip. Waktu tempuh bisa sekitar 1–1,5 jam (speedboat) atau lebih lama kalau kapal phinisi karena rute berhenti-berhenti.
Biaya & tiket
Karena masih satu kawasan Komodo, umumnya tiket TN Komodo berlaku, lalu biaya “total” sangat dipengaruhi paket kapal. Beberapa operator/portal wisata menyebut ada retribusi kecil untuk akses Pink Beach (angka bisa berbeda-beda tergantung pengelolaan/paket), jadi anggap saja biaya utamanya tetap kapal + tiket kawasan.
Tips foto biar pasirnya benar-benar “pink”
Datang saat matahari cukup tinggi (pagi menjelang siang) supaya warna pasir keluar, lalu ambil angle agak rendah mendekati bibir air. Kalau mendung, jangan panik—mainkan foto detail pasir + percikan ombak, hasilnya tetap estetik.
Makanan khas yang wajib dicoba di area Bajo
Di Labuan Bajo, cari ikan bakar dan seafood segar. Kalau sempat mampir Kupang di rute lain, kamu wajib coba sei (asap) yang aromanya nendang dan cocok dimakan hangat-hangat.
3) Danau Kelimutu, Flores: Tiga Warna, Tiga Suasana
Kenapa hits & instagramable
Kelimutu itu “magis” dengan cara yang sederhana: kamu berdiri di bibir kawah, lalu melihat danau dengan warna yang bisa berubah dari waktu ke waktu. Banyak orang datang subuh demi sunrise, karena kabut tipis dan cahaya pertama bikin suasananya dramatis.
Cara ke lokasi
Biasanya kamu terbang ke Ende (ENE) atau Maumere (MOF), lalu lanjut darat menuju Moni (desa basecamp yang paling populer). Dari Moni ke pintu masuk Kelimutu, perjalanan daratnya relatif nyaman, lalu lanjut jalan kaki singkat ke viewpoint.
Biaya & jam kunjung (rujukan terbaru)
Untuk tarif masuk TN Kelimutu, beberapa rujukan menyebut wisnus Rp10.000 (hari biasa) dan Rp15.000 (hari libur), sedangkan wisman Rp150.000.
Jam masuk kawasan juga pernah diinformasikan sekitar 05.00–16.00, jadi sunrise hunter biasanya berangkat sangat pagi.
Penginapan & titik menginap
Saya paling merekomendasikan menginap di Moni karena suasananya tenang, banyak homestay nyaman, dan kamu bisa berangkat sunrise tanpa drama. Pilih penginapan yang menyediakan sarapan awal (atau minimal kopi panas), karena subuh di Flores bisa bikin kaget.
Cerita kecil ala perjalanan
Yang saya suka dari Kelimutu: setelah ramai-ramai foto di puncak, turun ke Moni itu seperti “balik ke ritme manusia”. Pernah saya duduk di warung kecil, ibu pemiliknya menuang kopi Flores sambil bilang, “Kalau kabutnya tebal, berarti Kelimutu lagi pengin misterius.” Saya ketawa, tapi kok iya juga.
4) Desa Wae Rebo: Kampung di Atas Awan yang Bikin Kamu Betah Offline
Kenapa hits & instagramable
Wae Rebo terkenal dengan rumah adat kerucut Mbaru Niang yang berdiri di lembah hijau, seperti desa dongeng. Yang bikin foto kamu beda bukan cuma bentuk rumahnya, tapi atmosfernya: sejuk, sunyi, dan langit malamnya sering bersih.
Cara ke lokasi
Umumnya orang berangkat dari Ruteng menuju Denge, lalu trekking menuju Wae Rebo. Trek-nya butuh stamina, tapi jalurnya jadi bagian dari pengalaman (hutan, tanjakan, dan udara yang berubah dingin pelan-pelan).
Biaya kunjungan & menginap
Salah satu rujukan pariwisata NTT menyebut biaya Rp225.000/orang (kunjungan) dan Rp325.000/orang (termasuk menginap), sudah termasuk makan dan minuman sambutan.
Karena kebijakan lokal bisa berubah, siapkan cash cadangan dan ikuti arahan tetua/guide setempat.
Etika singkat (penting!)
Wae Rebo itu bukan “objek foto”, tapi rumah orang. Minta izin sebelum memotret warga dekat, jaga nada bicara, dan jangan meninggalkan sampah (bahkan tisu kecil pun).
Cerita kecil ala perjalanan
Momen paling saya ingat justru bukan saat memotret rumah kerucutnya, tapi ketika malam tiba dan semua orang berkumpul di dalam rumah utama. Api kecil menyala, kopi menghangatkan tangan, lalu cerita mengalir pelan—di situ saya paham kenapa banyak orang pulang dari Wae Rebo dengan wajah lebih tenang.
5) Danau Weekuri, Sumba: Laguna Sebening Kaca di Pinggir Samudra
Kenapa hits & instagramable
Danau Weekuri itu laguna air asin yang terjebak di balik karang, warnanya biru-toska, tenang, dan sangat “ramah kamera”. Banyak orang suka karena bisa berenang santai tanpa ombak besar seperti di pantai terbuka.
Cara ke lokasi
Masuk Sumba biasanya via Tambolaka (TMC) atau Waikabubak, lalu lanjut sewa kendaraan ke arah Kodi (Sumba Barat Daya). Transportasi umum langsung ke Weekuri terbatas, jadi opsi paling realistis adalah sewa mobil + sopir atau motor.
Biaya masuk
Beberapa rujukan menyebut tiket orangnya gratis, tetapi ada biaya parkir (misalnya Rp50.000 per mobil).
Anggap angka ini sebagai patokan, dan tetap siapkan uang kecil karena praktik di lapangan bisa berbeda.
Penginapan & kuliner Sumba
Kalau kamu mengejar Weekuri dan sekitarnya, nginap di sekitar Tambolaka cukup strategis. Untuk makanan, coba olahan kuliner lokal sederhana (ikan, sayur, sambal khas), dan jangan ragu mampir warung kecil di Sumba, keramahan sering datang bareng teh manis hangat.
Itinerary Ringkas 5–7 Hari (Biar Realistis & Tidak Ngebut)
Kalau waktumu terbatas, saya sarankan pisahkan Flores/Komodo dan Sumba (dua pulau, dua ritme). Misalnya 3–4 hari di Labuan Bajo (Padar + Pink Beach), lanjut 2 hari Kelimutu (Ende–Moni), dan kalau masih ada napas serta budget, tambah 2–3 hari Sumba (Weekuri).
Kalau ingin memasukkan Wae Rebo, sisihkan minimal 2 hari karena trekking + menginap itu esensinya. Banyak orang menyesal datang Wae Rebo “PP kilat” karena capeknya dapat, tapi magisnya kurang terasa.
Kesimpulan
Dari Pulau Padar yang dramatis, Pink Beach yang unik, Kelimutu yang magis, Wae Rebo yang hangat, sampai Weekuri yang menenangkan NTT punya cara sendiri untuk bikin kamu jatuh hati. Kuncinya ada di perencanaan rute dan ritme perjalanan: jangan terlalu memaksa banyak pindah dalam waktu singkat, karena NTT paling nikmat kalau kamu sempat “mengendap” di setiap tempat.
Kalau kamu sedang menyusun liburan yang isinya pemandangan kelas dunia + pengalaman budaya yang nyata, masukkan 5 destinasi ini ke daftar teratas.
Siapkan kamera, siapkan stamina, dan lebih penting lagi: siapkan waktu untuk benar-benar menikmati Nusa Tenggara Timur, bukan cuma memotretnya.