
6 Tempat Wisata di Bengkulu yang Sedang Hits & Instagramable belakangan jadi incaran banyak orang yang pengin liburan santai tapi tetap “panen konten”.
Bengkulu punya paket lengkap garis pantai panjang, sunset dramatis, wisata sejarah yang fotogenik, sampai pulau kecil dengan air sebening kaca.
Yang saya suka, vibes-nya tidak dibuat-buat. Kamu bisa duduk di tepi pantai sambil ngopi, lalu 15 menit kemudian sudah berada di tempat lain yang nuansanya beda total. Dan ya kalau kamu tipe yang suka foto minimal effort tapi hasilnya maksimal, Bengkulu ini ramah banget.
Bengkulu makin sering muncul di itinerary Sumatra karena aksesnya makin mudah dan pilihan spotnya beragam: bahari, sejarah, sampai alam kota. Event budaya seperti Festival Tabut juga rutin bikin kawasan Pantai Panjang penuh warna dan suasana jadi hidup.
Selain itu, banyak tempat yang biayanya ramah dompet. Bahkan beberapa lokasi bisa kamu nikmati tanpa tiket masuk, cukup bayar parkir atau retribusi kecil.
Pantai Panjang itu “andalan sejuta umat” dan memang masuk akal: garis pantainya panjang, akses gampang, dan suasananya enak buat jalan sore. Banyak yang datang untuk jogging, piknik, atau sekadar duduk menunggu langit berubah warna.
Spot Instagramable: tulisan “Pantai Panjang”, jalur pedestrian tepi pantai, dan foto siluet saat sunset. Kalau lagi ramai (apalagi musim event), kamu justru bisa dapat foto candid yang terasa hidup. Pantai Panjang juga jadi salah satu pusat keramaian saat Festival Tabut.
Cara ke sana: dari pusat Kota Bengkulu tinggal mengikuti arah kawasan Pantai Panjang; kalau dari Bandara Fatmawati Soekarno, kamu bisa naik taksi/ojek online ke area pantai.
Biaya: umumnya gratis tiket masuk, biasanya hanya parkir kendaraan. Rujukan tarif yang sering dipakai wisatawan: motor sekitar Rp2.000 dan mobil sekitar Rp5.000, namun di momen tertentu pemkot juga menertibkan tarif parkir resmi agar tidak “dimainkan”.
Cerita singkat: saya pernah datang menjelang magrib anginnya kencang tapi adem, dan penjual kelapa muda lewat sambil bercanda ke pengunjung. Momen kecil yang bikin suasana terasa dekat, bukan sekadar tempat wisata.
Tapak Paderi sering jadi pilihan cepat kalau kamu ingin sunset tanpa ribet. Lokasinya strategis dan terkenal sebagai spot nongkrong sore hingga malam.
Spot Instagramable: golden hour dengan perahu nelayan, foto siluet di bibir pantai, dan frame langit oranye yang luas. Banyak orang sengaja datang cuma untuk “nangkap” 15 menit terbaik sebelum matahari turun.
Cara ke sana: dari pusat kota sekitar belasan menit (tergantung titik start). Kamu bisa sekalian menyambung ke Benteng Marlborough karena lokasinya tidak terlalu jauh.
Biaya: banyak sumber menyebut gratis dan hanya bayar parkir (motor kisaran Rp2.000, mobil Rp5.000), namun ada juga info retribusi sekitar Rp5.000 di beberapa rujukan—jadi aman kalau kamu siapkan uang kecil.
Tips foto: datang 30–45 menit sebelum sunset, pakai outfit warna netral (putih/cream) agar kontras dengan langit.
Kalau kamu suka foto bernuansa klasik, Benteng Marlborough jawabannya. Benteng ini ikonik, bentuknya megah, dan dari beberapa sudut kamu bisa dapat komposisi simetris yang cakep tanpa perlu banyak edit.
Spot Instagramable: gerbang masuk, lorong-lorong batu, area lapang di dalam benteng, dan sudut yang menghadap ke kawasan pesisir.
Cara ke sana: berada di Kota Bengkulu, mudah dijangkau kendaraan umum/online.
Biaya & jam: tiket masuk yang sering disebut sekitar Rp5.000 per orang, jam kunjungan umumnya 08.00–17.00 WIB.
Cerita singkat: bagian favorit saya justru bukan area “rame”, tapi ketika menemukan sudut yang sepi—angin masuk dari arah laut, dan kamu bisa kebayang bagaimana tempat ini dulu jadi saksi strategi pertahanan.
Tempat ini bukan sekadar “museum”, tapi ruang yang membuat kamu berhenti sebentar. Banyak pengunjung datang untuk belajar, lalu pulang dengan perasaan yang lebih hangat karena sejarahnya terasa dekat.
Spot Instagramable: teras rumah dan area interior yang rapi—foto di sini cocok untuk gaya travel-story, bukan sekadar pose. Lokasi dan informasi tiket sekitar Rp5.000 sering disebut di berbagai rujukan wisata.
Cara ke sana: masih di Kota Bengkulu, mudah dicapai kendaraan.
Biaya & jam: umumnya buka siang-pagi kerja museum; siapkan uang tunai kecil untuk tiket/retribusi.
Tips: datang pagi agar tidak terlalu ramai, dan kamu bisa menikmati penjelasan petugas/penjaga dengan lebih leluasa.
Namanya unik, tempatnya juga unik: danau yang jadi ruang “napas” di kota. Cocok untuk kamu yang pengin suasana hijau tanpa harus keluar jauh.
Spot Instagramable: refleksi air saat pagi, foto jalan santai di tepi danau, dan momen senja yang lebih “kalem” dibanding pantai.
Cara ke sana: lokasinya di Kota Bengkulu dan cukup mudah diakses.
Biaya: pada profil pariwisata, tiket masuk tercantum gratis (biasanya ada biaya lain seperti parkir atau belanja di area sekitar).
Catatan kecil: beberapa waktu terakhir ada perhatian soal ketertiban pedagang/daftar harga—bagus untuk kenyamanan, tapi tetap bijak: tanya harga dulu sebelum beli.
Kalau kamu mencari “spot beda” yang benar-benar instagramable, Sungai Suci wajib masuk list. Ada jembatan gantung, tebing/karang, dan ombak yang bikin foto terasa dramatis.
Spot Instagramable: jembatan gantung (wajib!), batu-batu karang besar, dan angle lebar yang menangkap garis pantai.
Cara ke sana: berada di wilayah Bengkulu Tengah; banyak traveler berangkat dari Kota Bengkulu dengan kendaraan sewaan/online, lalu lanjut mengikuti rute ke kawasan pantai.
Biaya: info yang sering muncul: tiket masuk sekitar Rp5.000, lalu tambah Rp5.000 bila ingin menyeberang jembatan gantung.
Tips aman: jembatan bisa bergoyang saat ramai—jalan pelan, jangan berlari, dan simpan HP dengan strap kalau ada.
Pulau Tikus itu cantik banget untuk snorkeling—air jernih, terumbu karang, dan vibe “mini-maldives” versi Bengkulu. Biasanya ditempuh sekitar 30–40 menit naik perahu dari kawasan pesisir.
Tapi penting: sempat ada insiden kapal wisata pada 2025, dan ada periode penghentian sementara wisata sebagai evaluasi keselamatan. Jadi, cek info terbaru, pilih operator yang jelas, dan pastikan pelampung tersedia.
Hari 1: Pantai Panjang (sore) → Tapak Paderi (sunset) → kuliner malam di kota.
Hari 2: Benteng Marlborough → Rumah Pengasingan Bung Karno → Danau Dendam Tak Sudah → (opsional) Pantai Sungai Suci jika ingin “closing” yang paling estetik.
Kuncinya: susun rute dari yang dekat pusat kota dulu, baru yang agak keluar kota. Bengkulu itu enak karena banyak spot berdekatan, jadi waktumu lebih banyak buat menikmati, bukan di jalan.
Kalau kamu mau praktis, pilih penginapan di area Kota Bengkulu yang dekat akses Pantai Panjang/Tapak Paderi. Enaknya: pagi bisa ngopi ke pantai, malam gampang cari makan, dan besoknya tinggal meluncur ke spot sejarah.
Untuk yang ingin suasana tenang, cari penginapan yang sedikit menjauh dari keramaian pantai biasanya tidur lebih nyenyak, tapi masih dekat kalau mau ke mana-mana.
Pendap itu semacam “pepes” khas Bengkulu—ikan berbumbu kelapa dan rempah, dibungkus daun talas lalu daun pisang. Rasanya gurih pedas dan cocok dimakan hangat-hangat.
Kalau mau yang unik, coba lemea/lema (fermentasi rebung dengan ikan) yang punya rasa khas dan biasanya pedas gurih. Ini kuliner tradisional yang benar-benar “berkarakter”.
Ada juga bagar hiu, namun perlu dicatat: karena isu ketersediaan dan status hiu yang dilindungi, hidangan ini tidak selalu mudah ditemukan pilih kuliner secara bijak dan pertimbangkan alternatif seafood lokal.
Bengkulu bukan cuma soal pantai—di sini kamu bisa dapat sunset yang “niat”, spot foto yang estetik, wisata sejarah yang berisi, sampai danau kota yang menenangkan. Dari Pantai Panjang dan Tapak Paderi, lanjut ke Benteng Marlborough dan Rumah Pengasingan Bung Karno, lalu menutup dengan Danau Dendam Tak Sudah dan Pantai Sungai Suci semuanya terasa seperti potongan pengalaman yang berbeda.
Kalau kamu lagi cari destinasi yang masih terasa autentik tapi tetap hits, sekarang saatnya memasukkan Bengkulu ke rencana liburanmu. Datanglah, jelajahi pelan-pelan, dan biarkan kameramu bekerja karena di Bengkulu, bagus itu sering datang tanpa dipaksa.